Kedudukan Al-Ghurbah (Keterasingan) dalam Ibadah
Kedudukan Al-Ghurbah (Keterasingan) dalam Ibadah merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 2 Ramadhan 1447 H / 20 Februari 2026 M.
Kajian Tentang Kedudukan Al-Ghurbah (Keterasingan) dalam Ibadah
اِيَّاكَ نَعْبُدُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan beribadah.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5).
Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dalam memperbaiki hati dan jiwa, terutama pada kedudukan al-ghurbah atau keterasingan. Keterasingan yang dimaksud adalah posisi ahlul haq (pembela kebenaran) di tengah mayoritas umat manusia yang lebih condong kepada kebatilan. Ini adalah keterasingan orang-orang saleh di tengah mayoritas manusia yang tenggelam dalam syahwat dan terjerumus ke dalam kejahatan.
Sunnatullah Keterasingan Pembela Kebenaran
Keterasingan ahlul haq di tengah mayoritas ahlul bathil merupakan sebuah sunnatullah. Kebenaran sering kali berada pada posisi minoritas, sementara mayoritas penduduk dunia kerap berada dalam kekufuran dan kebatilan. Tatkala manusia hidup dalam kejahiliyahan, kebodohan, kesesatan, dan kekufuran yang merata, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyelamatkan mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus di tengah kegelapan syirik dan kedzaliman dengan membawa cahaya ilmu agama, menyebarkan keadilan, dan mengajak manusia kepada tauhid serta ketaatan. Islam yang diridhai dan disempurnakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla ini pada awalnya datang dalam keadaan yang sangat asing.
Hakikat Al-Ghuraba
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan fenomena keterasingan ini dalam sebuah hadits shahih:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana kemunculannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim).
Ketika para sahabat bertanya mengenai siapakah orang-orang asing (al-ghuraba) tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
“Yaitu orang-orang yang senantiasa berbuat baik (ishlah) di tengah manusia yang telah rusak.” (HR. Ahmad).
Orang-orang yang asing ini adalah mereka yang istiqomah dalam kebaikan dan kesalehan kendati kerusakan terjadi di sekelilingnya. Mereka tetap berpegang teguh pada kebenaran dan agama Allah ‘Azza wa Jalla saat mayoritas manusia justru mengikuti hawa nafsu. Mereka memilih menjadi abdun lillah (hamba Allah) yang sejati di saat banyak manusia menjadi penyembah dunia.
Kedatangan Islam pada masa awal memang berada dalam keterasingan yang luar biasa karena kejahiliyahan, kebodohan menyelimuti seluruh tatanan hidup manusia, mulai dari keimanan, aqidah, ibadah, tradisi, hingga perilaku dan akhlak. Konsep hidup manusia berada dalam keadaan jahiliah yang dipenuhi kekufuran, kesyirikan, bid’ah, khurafat, pemuasan hawa nafsu, perzinaan, pencurian, pembunuhan, serta permusuhan. Dalam kegelapan itulah Islam datang membawa perubahan besar.
Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh kepada umat manusia. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang hak untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. At-Taubah[9]: 33).
Beliau mengajarkan tauhid, iman, aqidah, dan akhlak sehingga manusia mulai masuk ke dalam Islam secara bertahap. Seiring waktu, dakwah berkembang pesat hingga manusia masuk ke dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala secara berbondong-bondong.
يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
“…dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (QS. An-Nashr[110]: 2).
Islam kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia sebagai sebuah kekuatan dan kedaulatan yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyebarkan kebaikan kepada seluruh umat manusia.
Kembalinya Keterasingan di Tengah Syubhat dan Syahwat
Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai keislaman mulai tercemari oleh berbagai penyimpangan pemahaman yang disebabkan oleh syubhat (pemikiran yang samar/menyimpang) dan syahwat. Penyimpangan ini mencakup sisi akhlak, perilaku, dan pola pikir yang bertentangan dengan kebenaran serta Al-Qur’an dan hadits.
Dalam kondisi demikian, orang-orang yang tetap berpegang teguh pada warisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang utuh dan sempurna kembali menjadi asing. Namun, mereka yang konsisten dalam kondisi tersebut adalah orang-orang mulia yang dijanjikan kebahagiaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“…maka beruntunglah orang-orang yang asing (al-ghuraba).” (HR. Muslim).
Al-Ghuraba adalah mereka yang tidak mengikuti hawa nafsu mayoritas manusia dan tidak mengekor pada pemikiran yang menyimpang. Mereka tetap menjunjung tinggi akhlak mulia, berkomitmen pada sunnah, dan menjunjung tinggi kebenaran dalam setiap keadaan.
Sifat Al-Ghuraba
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan lebih rinci mengenai sifat orang-orang yang asing ini:
ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم
“Manusia yang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah tengah manusia banyak yang buruk.” (HR. Ahmad).
Fakta menunjukkan bahwa pengikut kebenaran berjumlah sedikit, sedangkan pengikut kebatilan sering kali menjadi mayoritas. Hal ini menjadi kabar gembira bagi setiap individu yang menjadikan pencarian kebenaran sebagai tujuan hidupnya. Meskipun pola pikir, perilaku, dan tata cara ibadah masyarakat di sekelilingnya berubah, ahlul haq yang dibimbing oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa konsisten menjunjung tinggi kebenaran tersebut.
Seorang mukmin sejati senantiasa menyebarkan keadilan meski di tengah banyaknya kezaliman. Ia beribadah dengan ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat mayoritas manusia terjebak dalam kesyirikan, riya, maupun sumah. Ia menjunjung tinggi kebenaran dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun khalayak lebih menyukai kebatilan, bid’ah, dan khurafat.
Mereka yang tetap menyeru kepada tauhid di tengah gelombang kesyirikan adalah orang-orang yang beruntung, bahagia, dan istimewa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesedihan tidak sepatutnya hadir selama seseorang berada di atas kebenaran dan mengikuti ajaran Islam yang diwariskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat, lalu diteruskan kepada tabiin, tabiut tabiin, hingga sampai kepada generasi saat ini melalui mata rantai yang tidak terputus.
Tingkatan Keterasingan Menurut Imam Ibnu Qayyim
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa al-ghuraba (orang-orang yang asing) mendapatkan pujian di sisi Allah ‘Azza wa Jalla karena jumlah mereka yang sangat minoritas. Keterasingan ini memiliki beberapa tingkatan:
- Islam di Tengah Dunia: Umat Islam berjumlah sedikit jika dibandingkan dengan seluruh penduduk bumi.
- Iman di Tengah Islam: Orang yang memiliki keimanan yang benar lebih sedikit lagi jumlahnya di tengah kaum muslimin.
- Ilmu di Tengah Iman: Orang yang berilmu (ahlul ilmi) di tengah orang beriman berjumlah sangat terbatas.
- Ahlussunnah di Tengah Ahli Bid’ah: Mereka yang mampu membedakan sunnah dari hawa nafsu dan bidah adalah orang-orang yang paling asing.
Keterasingan yang paling dahsyat dirasakan oleh para penyeru sunnah yang sabar menghadapi cobaan, intimidasi, serta celaan. Namun, Imam Ibnu Qayyim menegaskan bahwa meski mereka dibenci mayoritas manusia, mereka adalah ahlullah (keluarga Allah) yang sesungguhnya. Tidak ada keterasingan bagi mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing, membela, dan menolong mereka.
Sunnatullah Perlawanan Mayoritas
Cibiran, propaganda, dan tuduhan palsu merupakan sunnatullah yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mayoritas penduduk bumi sering kali berada dalam kesesatan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِي الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am[6]: 116).
Oleh karena itu, ahlussunnah yang memegang teguh aqidah, ibadah, dan akhlak sesuai tuntunan salafus saleh tidak perlu berkecil hati meski terasa asing di tengah masyarakat bahkan keluarga sendiri. Tekanan dan intimidasi adalah bagian dari perseteruan antara yang haq dan yang batil hingga hari kiamat. Perlu diyakini bahwa meskipun berjumlah minoritas, kebenaran akan selalu unggul di atas kebatilan.
Tiga Jenis Keterasingan menurut Imam Ibnu Qayyim
Pengikut ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya adalah sosok ghuraba, yaitu orang-orang yang asing di tengah mayoritas umat manusia. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa keterasingan (al-ghurbah) terbagi menjadi tiga jenis, namun yang menjadi fokus utama dalam konteks pujian syariat adalah jenis yang pertama.
1. Keterasingan Ahlullah dan Ahlussunnah
Jenis pertama adalah keterasingan ahlullah (keluarga Allah) dan pengikut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di tengah mayoritas manusia. Inilah keterasingan yang dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sabdanya:
فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim).
Meskipun Islam telah menyebar luas dan banyak orang memeluknya, kenyataannya hanya sedikit yang benar-benar memahami Islam sesuai tuntunan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sangat minoritas orang yang memahami tauhid dengan benar, mengajak kepadanya, serta berpegang teguh pada Islam di zaman sekarang. Mayoritas manusia lebih cenderung mengajak kepada pemikiran pribadi, kelompok, sekte, atau organisasi tertentu.
Sebaliknya, ciri khas dakwah ahlussunnah dan pengikut salafus saleh adalah hanya mengajak kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Mereka mengajak kepada tauhid, sunnah, dan akhlak mulia sebagaimana yang diwariskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat. Keterasingan ini bisa terjadi di tempat, waktu, atau kelompok tertentu.
Hakikat Keluarga Allah (Ahlullah)
Imam Ibnu Qayyim menegaskan bahwa orang-orang yang hidup dalam keterasingan tersebut adalah ahlullah haqqan (keluarga Allah yang sesungguhnya). Mereka memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Tidak berlindung kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Tidak menisbatkan diri (dalam hal prinsip beragama) kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
- Tidak mengajak manusia kecuali kepada agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
- Berani meninggalkan tradisi, budaya, atau pemahaman manusia yang bertentangan dengan wahyu, meskipun mereka sebenarnya membutuhkan dukungan sosial dari kerabat atau masyarakat tersebut.
Buah Keterasingan di Akhirat
Keteguhan dalam keterasingan di dunia akan membuahkan hasil di akhirat. Pada hari kiamat, saat setiap manusia pergi mengikuti apa yang mereka sembah atau kultuskan di dunia baik itu figur manusia, ideologi, maupun hawa nafsu orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap tegak berdiri. Mereka memisahkan diri dari rombongan orang-orang yang menyimpang tersebut.
Orang yang istiqamah dalam keterasingan ini mungkin tidak dianggap berharga atau tidak dilirik oleh pandangan manusia. Namun, di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang paling mulia.
Seorang muslim yang berada dalam keterasingan mungkin terlihat sederhana secara lahiriah. Boleh jadi ketika ia berbicara, suaranya tidak didengar, atau ketika ia ingin masuk, pintu-pintu ditutup baginya. Penampilannya mungkin penuh debu dan tidak menakjubkan bagi pandangan mata manusia, bahkan mungkin ia termasuk golongan orang miskin dengan segala keterbatasan. Namun, di dalam hatinya terdapat keimanan, cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta ketulusan yang luar biasa. Terhadap orang yang memiliki kedudukan seperti ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mewujudkannya.” (HR. Muslim).
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat-sifat ahlul ghuraba yang mendapatkan pujian dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai berikut:
1. Berpegang Teguh pada Sunnah (At-Tamassuk bis Sunnah)
Sifat pertama adalah komitmen penuh untuk berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, meskipun banyak manusia yang membencinya atau meninggalkannya. Seseorang yang tetap konsisten di jalan ini adalah orang asing yang dijanjikan kebahagiaan (tuba).
2. Meninggalkan Perkara Bid’ah
Konsekuensi dari berpegang teguh pada sunnah adalah meninggalkan segala perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama (bidah). Ketika mayoritas manusia mengikuti selera hawa nafsu yang jauh dari tuntunan, ahlul ghuraba tetap meyakini bahwa setiap bidah adalah kesesatan. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).
Prinsip ini diterapkan dalam aqidah, ibadah, maupun akhlak. Mereka menjauhi segala hal yang tidak diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta tidak memiliki landasan dalil di dalam Al-Qur’an dan hadits.
3. Memurnikan Tauhid (Tajridut Tauhid)
Sifat berikutnya adalah bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mengaktualisasikan tauhid secara ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ciri khas ahlussunnah wal jamaah tercermin dalam dakwah, taklim, dan tarbiah yang senantiasa berkonsentrasi pada aqidah yang benar. Meskipun mayoritas manusia mengingkari atau menuduh dengan berbagai istilah keji, mereka tetap mengajak umat untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka menjauhkan diri dari noda syirik, baik yang besar maupun yang kecil, serta meninggalkan segala sarana yang dapat menjerumuskan kepada kerusakan tauhid. Meski mendapatkan tekanan, mereka tetap konsisten menjaga kesucian tauhid tersebut.
4. Tidak Fanatik kepada Selain Allah dan Rasul-Nya
Ahlul ghuraba tidak menisbatkan diri atau bersikap fanatik buta kepada syekh, tarekat, mazhab, kelompok, maupun organisasi tertentu. Pemimpin tertinggi mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mazhab mereka adalah sunnah, dan jalan mereka adalah jalan para salafus saleh.
Mereka hanya menisbatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan prinsip ubudiyah (menjadi hamba yang tulus) dan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan prinsip ittiba’ (mengikuti tuntunan beliau). Mereka adalah ahlut tauhid wal ittiba’ yang tidak memiliki keterikatan kecuali pada kebenaran yang datang dari Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Keteguhan Memegang Bara Api Sunnah
Seseorang yang menisbatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagai abdun lillah memiliki konsekuensi untuk selalu berusaha mengikhlaskan niat, memperbaiki hati, serta memurnikan tauhidnya. Mereka yang menisbatkan diri kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan mengikuti sunnah beliau. Di tengah mayoritas kebatilan, kesesatan, dan penyimpangan, berpegang teguh pada kebenaran terasa seperti menggenggam bara panas yang membakar telapak tangan. Namun, tidak ada cara untuk selamat kecuali dengan tetap menggenggamnya. Hal ini merupakan pilihan yang harus diambil demi meraih keselamatan abadi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya di antara mereka seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).
Meskipun mayoritas manusia mencela, menghina, mencibir, dan mengolok-olok, hal tersebut adalah sunatullah yang harus dihadapi. Ahlussunnah wal jamaah tidak perlu bersedih karena Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun telah memuji golongan ini dan berpesan untuk bersabar hingga saatnya bersua dengan beliau di telaga (al-haudh) kelak:
فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
“Maka bersabarlah kalian hingga kalian menjumpaiku di telaga (pada hari kiamat).” (HR. Bukhari).
Keterasingan di Tengah Perpecahan Umat
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa keterasingan Islam di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat adalah sebuah keniscayaan. Namun, keterasingan ahlussunnah di zaman sekarang jauh lebih dahsyat. Hal ini dikarenakan mereka hidup di tengah-tengah faksi yang menyimpang dari sunnah. Fenomena ini sesuai dengan hadits tentang perpecahan umat:
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka yang mengikuti jalanku dan jalan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi).
Bisa dibayangkan betapa asingnya satu golongan yang berpegang teguh pada sunnah di tengah tujuh puluh dua golongan lainnya yang menyimpang. 72 sekte yang menyimpang tersebut seringkali memiliki pengikut yang banyak, kedudukan, serta kekuatan, dan terkadang sepakat untuk menyelisihi kebenaran demi memperjuangkan hawa nafsu, syubhat, dan syahwat.
Pahala Lima Puluh Kali Lipat Sahabat
Mengingat beratnya tantangan dan banyaknya ancaman dalam memegang teguh sunnah di zaman sekarang, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pahala mereka setara dengan pahala lima puluh orang sahabat Nabi. Keterasingan mereka di tengah kegelapan hawa nafsu yang menyelimuti tatanan hidup manusia menjadikan amal tersebut sangat berharga.
Seorang mukmin yang telah dikaruniai ilmu tentang agama dan pemahaman sunnah harus menyadari realitas mayoritas manusia yang terkontaminasi hawa nafsu dan bidah. Wasiat Imam Ibnu Qayyim bagi siapa saja yang ingin berjalan di atas sirathal mustaqim adalah menanamkan kesabaran yang luar biasa dalam diri.
Setiap individu harus meyakinkan jiwanya bahwa saat inilah waktu untuk bersabar menghadapi celaan orang-orang bodoh serta ahli bidah. Segala bentuk propaganda, upaya menjauhkan manusia dari kebenaran (tanfir), serta tuduhan-tuduhan miring adalah pengulangan sejarah sebagaimana kaum kafir dahulu menuduh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang gila atau penyihir. Meskipun dihina, mereka tetaplah ahlul haq yang berdiri kokoh diatas kebenaran. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengaruniakan kesabaran dalam menjaga tauhid dan sunnah hingga akhir hayat.
Download MP3 Kajian Kedudukan Al-Ghurbah (Keterasingan) dalam Ibadah
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56093-kedudukan-al-ghurbah-keterasingan-dalam-ibadah/